Indonesia Harus Mampu Pertahankan Ambalat
Kamis,
17 Maret 2005
JAKARTA (Suara Karya): Mantan Pangkostrad Letjen
(Pur) Prabowo Subianto menegaskan, pemerintah
Indonesia harus mampu mencari solusi yang terbaik
dalam penyelesaian kasus Ambalat dan penyelesaian
itu harus bermuara pada kemampuan mempertahankan
Ambalat sebagai wujud kedaulatan dan kehormatan
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
"Soal Ambalat sebaiknya kita memandang
dengan sejuk dan kita percaya penuh kepada pemerintah,"
kata Letjen Prabowo Subianto usai menjenguk
sahabat lamanya Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD) non-aktif Abdullah Puteh di RS MH Thamrin
Jakarta, Rabu siang.
Prabowo mengungkapkan, semua pihak semestinya
mempercayakan penyelesaian kasus ini sepenuhnya
kepada pemerintah RI dan mendukung langkah-langkah
yang ditempuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Kita percaya penuh kepada kepemimpinan
Presiden Yudhoyono. Saya kira beliau orang yang
sangat arif, beliau sangat hati-hati dan beliau
akan mampu menyelesaikan masalah Ambalat dengan
baik," katanya.
Dia menjelaskan, pemerintah Indonesia bersama
TNI harus menghindarkan penyelesaian lewat perang
dalam mengatasi masalah Ambalat. Perang bukan
jalan terbaik untuk mempertahankan daerah yang
kaya dengan minyak itu, meskipun pihak Malaysia
masih sering melakukan provokasi.
Karena itu, dia menghimbau prajurit TNI yang
sekarang bertugas di gugus depan Ambalat itu,
agar tidak mudah terpancing oleh ulah pihak
militer Malaysia yang sampai sekarang masih
sering mencoba untuk memasuki wilayah tersebut.
"Kita ini bangsa yang besar dan arif, tidak
akan mudah terprovokasi. Jadi perang harus dihindari,
perang adalah sesuatu yang harus kita upayakan
sekuat mungkin untuk tidak terjadi," katanya.
Prabowo berkata "Saya pikir kita bisa
menghindari dan bisa mencari jalan terbaik.
Kita percayakan saja kepada pemerintah dan Presiden
SBY untuk mencari jalan keluar yang terhormat
dan berwibawa. Tak mungkin presiden akan keluarkan
perintah berperang dengan Malaysia.
Untuk memutuskan tindakan militer dengan perang,
kata Prabowo, membutuhkan perhitungan yang rumit
dan harus matang, meski TNI memiliki kemampuan
untuk itu. Tetapi, efek domino dari perang itu
yang harus diperhitungkan dan hindari.
Di Surabaya, aksi unjukrasa tetang kasus Ambalat
belum menunjukkan gejala bakal meredup. Menyusul
beragam aksi yang digelar di DPRD dan berbagai
kantor milik pemerintah, Rabu (16/3) kemarin
giliran rumah dinas Panglima TNI AL Komando
Armada Timur (Koarmatim) di Surabaya, didemo
mahaiswa.
Belasan mahasiswa dati Universitas Negeri
Surabaya (UNESA) sengaja datang ke rumah dinas
itu untuk memberi dukungan pada TNI AL guna
mempertahan blok Ambalat. Mereka yang datang
mengendarai sepeda motor itu langsung ditemui
Kadispen Koarmatim Lektol (Laut) Guntur Wahyudi
di halaman rumah dinas. Dalam pernyataan sikapnya,
BEM Unesa ini mendukung penuh tindakan TNI AL
menghadapi Malaysia yang berusaha merebut ladang
minyak di blok Ambalat.
Dari Bangkalan dilaporkan, kesibukan luar
biasa, Rabu (16/3) pagi, mewarnai kawasan Ponpes
Syaichona Cholil II Kabupaten Bangkalan. Itu
terjadi ketika ribuan santri dan santriwati
dari ratusan Ponpes yang tersebar di 18 kecamatan
se Kabupaten Bangkalan, berdesak-desakan untuk
mendaftarkan diri sebagai relawan bertajuk "Ganyang
Malaysia", menyusul konflik perbatasan
di parairan Pulau Ambalat antara Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan Kerajaan Malaysia.
"Setelah para Kiai di Bangkalan bermusyawarah,
akhirnya kami sepakat untuk membuka posko pendaftaran
relawan yang kami pusatkan di Ponpes Syaichona
Cholil II ini," kata pengasuh Ponpes An-Nuroniyah,
Kecamatan Bangakalan Kota, KH Faisol Anwar kepada
wartawan.
Dia menilai inisiatif bernuansa kesadaran
bela negara ini mendapat respon luar biasa dari
para santri. "Anda lihat, pagi sampai siang
ini (kemarin-red), sudah ada ribuan santri dan
santriwati yang datang dan mendaftarkan diri
untuk menjadi relawan Ganyang Malaysia,"
ujar imbuh KH Faisol. (H-3/A-10/Sya)