Membangun Perekonomian
yang Bermartabat
Prabowo Subianto
Rasanya baru kemarin kita menyambut kehadiran
fajar pagi 2004. Namun, bertumpuk agenda - yang
mencerminkan beratnya beban bangsa ini - sudah
memaksa kita bekerja keras sejak sekarang. Tahun
2004 memang kita masuki dengan harap-harap cemas.
Adakah ia akan menjadi titik balik kebangkitan
bangsa dari keterpurukan panjang akibat krisis;
atau sebaliknya, semakin terpuruk dan bersiap
membawa bangsa ini menuju jurang kebangkrutan.
Kita tahu, ada dua agenda strategis pada tahun
ini yang sekaligus menjadi titik kritis penentuan
nasib bangsa. Yakni, pelaksanaan pemilu legislatif
pada 5 April yang dirangkai dengan pemilihan
presiden dan wakil presiden secara langsung
pada bulan Juli. Kedua hajatan nasional itu
diyakini bakal riuh dengan adu kepentingan,
terutama dipicu oleh tumbuhnya kekecewaan kolektif
terhadap penyelenggaraan pemerintahan selama
lima tahun terakhir. Yang pasti, hasil akhir
dari pergulatan menuju kursi kepemimpinan nasional
itulah yang akan menjadi pertaruhan nasib dan
masa depan Indonesia. Tidak terkecuali, yang
berkait dengan problematika perekonomian.
Hikmah dari Krisis
Bicara obyektif, tahun 2003 - sebagaimana tahun-tahun
sebelumnya - kita tinggalkan dengan sejumlah
catatan buram. Era reformasi yang sempat membuncahkan
harapan bagi dimilikinya landasan kokoh untuk
melakukan serangkaian perubahan, ternyata tidak
berjalan pada trek yang benar. Proses transisinya
tertatih-tatih, meski sebagian justru kebablasan.
Konsep atau tatanan kehidupan yang dulu dicita-
citakan oleh para pendiri republik, tampaknya
telah terdistorsi di hampir semua bidang.
Setiap hari kita masih terus dihadapkan pada
situasi gonjang-ganjing. Ironisnya, sebagian
besar terjadi justru akibat ulah dan sikap kita
sendiri yang tidak jujur, tidak konsisten, tidak
tertib, dan kurang bertanggungjawab dalam mengemban
amanat rakyat. Tanpa perlu saling tuding dan
menyalahkan satu sama lain, situasi ini tentu
harus segera diakhiri. Kita mesti kembali dan
belajar menjadi bangsa yang benar. Bangsa yang
memiliki harkat dan martabat, mandiri secara
ekonomi dengan rakyat yang hidup sejahtera dan
tidak sekadar menjadi "kacung" di
negeri sendiri - saking banyaknya aset strategis
yang kini dimiliki asing.
Kesamaan tekad untuk mengakhiri keterpurukan
bangsa memang mesti dikedepankan. Kita harus
berani mengakui kesalahan dan sekaligus menyadari
bahwa - jika dibandingkan dengan beberapa negara
tain yang juga dilanda krisis ekonomi - Indonesia
tergolong lamban untuk kembali bangkit. Sementara,
lewat cara penyikapan dan strategi penanganan
yang benar, tidak sedikit negara korban krisis
yang bukan saja telah berhasil lolos dari keterpurukan,
tapi bahkan mampu membangun kekuatan ekonomi
yang pantas diperhitungkan.
Saya tertarik pada langkah-langkah penanganan
krisis yang dilakukan pemerintah Malaysia dan
Thailand. Selain dengan cepat melakukan reorientasi
kebijakan, antara lain melalui pengendalian
devisa, pemberantasan korupsi, dan memobilisasi
sumber daya rakyat secara maksimal, pemerintah
kedua negara juga jeli menetapkan prioritas
program pada upaya menggerakkan roda perekonomian
di sektorsektor produksi dengan berbasis sumber
daya yang mereka miliki. Krisis pun dapat diatasi
tanpa membawa dampak besar dan merugikan rakyat.
Bagaimana dengan Indonesia? Mengamati tiga pemerintahan
di era reformasi, banyak bukti yang menunjuk
kegagalan penyelenggara pemerintahan dalam menghadapi
dan mengatasi berbagai tekanan kepentingan yang
muncul, baik dari dalam maupun luar pemerintahan.
Akibatnya, arah pemulihan perekonomian jadi
tak menentu, terdistorsi oleh kepentingan-kepentingan
kelompak yang sangat dominan. Ujungujungnya,
banyak kebijakan yang tidak aspiratif dengan
kebutuhan dan kepentingan rakyat.
Ada pula kebijakan yang baik namun tidak kena
sasaran, karena implementasinya di berbagai
lini pemerintahan terdeviasi sangat jauh dari
kepentingan rakyat kecil. Kenyataan ini menjelaskan,
pemerintah selama ini tidak mampu mengonsolidasikan
diri serta membangun keselarasan visi dan aksi
di antara penanggungjawab berbagai lini pemerintahan
untuk konsisten melaksanakan program pemulihan
ekonomi. Dewasa ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia
bergerak di kisaran 3-4%. Namun, pertumbuhan
ini pun lebih didorong oleh sektor konsumsi,
bukan sektor riil. Kecenderungan ini membuat
pengangguran terus menghadirkan ancaman, dan
menuntut antisipasi dini untuk mencegah terjadinya
ledakan masalah.
Di tengah kesulitan yang kian mengimpit, pemerintah
seharusnya pandai mengambil hikmah dengan mencermati
biang penyebab krisis. Runtuhnya berbagai konglomerasi
ekonomi, misalnya, merupakan hikmah besar yang
tak cukup dimaknai sekadar sebagai akibat lemahnya
fundamental perekonomian Indonesia saat itu.
Hikmah yang lebih penting: memberikan perhatian
berlebihan pada kegiatan ekonomi skala besar
dan mengabaikan yang kecil, menengah serta sektor
informal, ternyata merupakan kesalahan kebijakan
yang harus dibayar sangat mahal. Nyatanya, selama
krisis, usaha ekonomi skala kecil, menengah,
dan sektor informal justru mampu bertahan bahkan
menjadi penopang tetap berlangsungnya kegiatan
ekonomi rakyat.
Krisis ekonomi seharusnya juga mampu membuka
mata kita bahwa kebijakan pembangunan ekonomi
nasional yang bertumpu pada sumber daya luar
- dan bukan sumber daya lokal - adalah kebijakan
keliru. Strategi kebijakan "footloose industry"
yang mengandalkan pada sumber daya luar justru
merupakan penyumbang utama ambruknya perekonomian.
Dari fakta ini saja, sudah cukup alasan bagi
pemerintah untuk segera melakukan reorientasi
kebijakan. Utamanya, mengubah strategi kebijakan
pembangunan ekonomi menjadi berbasis pada sumber
daya lokal atau domestik (resource-based economy).
Membangun Pertanian
Ancaman terhadap kemerdekaan dan kedaulatan
bangsa sejatinya tidak hanya tercermin lewat
kehidupan rakyat yang makin berat, korupsi yang
kian menggurita atau besarnya ketergantungan
pembiayaan pembangunan pada utang luar negeri.
Ancaman yang paling potensial justru terletak
pada ketergantungan kita terhadap impor bahan
pangan dari luar negeri. Kenyataan yang sangat
ironis ini - mengingat Indonesia dikenal sebagai
negara agraris yang amat kaya dengan berbagai
sumber daya - umum dipahami tidak lepas dari
adanya skenario jahat pihak luar, yang terwujud
lewat kebijakan pangan yang kurang berpihak
kepada rakyat.
Kenyataan paradoksal itu pula yang membuat
saya sejak awal concern terhadap pentingnya
memberikan perhatian dan prioritas yang lebih
pada pembangunan sektor pertanian. Sikap ini
tentu tidak terlepas dari kondisi faktual tentang
banyaknya rakyat Indonesia yang bekerja dan
menggantungkan hidup pada sektor ini. Mengutip
BPS (2003), jumlah rumah tangga pertanian di
Indonesia saat ini tercatat sebanyak 25,4 juta,
di mana sebagian besar dari mereka ternyata
hidup miskin.
Indikator yang mencolok tampak dari meningkatnya
persentase rumah tangga petani gurem terhadap
rumah tangga pertanian pengguna lahan - dari
52,7% pada 1993 menjadi 56,5% pada 2003. Menurut
definisi BPS, petani gurem adalah rumah tangga
pertanian yang menguasai lahan (milik sendiri
atau menyewa) kurang dari 0,5 hektar dengan
pendapatan per bulan rata-rata di bawah Rp 500
ribu. Dalam 10 tahun terakhir, BPS mencatat
terjadinya peningkatan jumlah petani gurem rata-rata
2,6% per tahun, dan kini sudah mencapai 13,7
juta rumah tangga.
Banyak bukti yang menunjuk kurang berpihaknya
kebijakan pangan pemerintah kepada petani. Contoh:
ketika produksi pertanian anjlok di masa krisis,
pemerintah bukannya mendorong ke arah peningkatan
produktivitas, melainkan membanjiri pasar dengan
beras impor. Bahkan, saat panen raya, pemerintah
justru membuka lebar-lebar kran impor beras
yang - menurut Depperindag (2003) - mencapai
3,5 juta ton per tahun. Akibatnya, harga beras
di tingkat petani pun menukik tajam. Belum lagi,
dampak berantai akibat kebijakan konversi lahan,
rendahnya pemberian kredit kepada petani, dll.,
yang kian menyulitkan berkembangnya pembangunan
pertanian.
Urgensi pembangunan sektor pertanian sekurangnya
didukung oleh empat faktor. Pertama, dimilikinya
sumber daya pertanian - lahan subur dan pengairannya
- yang cukup melimpah. Kita tahu, luasnya lahan
subur merupakan faktor produksi yang potensial
didayagunakan secara maksimal. Kedua, ketersediaan
tenaga kerja. Memang ada masalah menyangkut
kualitas SDM sektor pertanian modern (dalam
arti luas) yang belum memadai. Namun lewat kebijakan
peningkatan SDM petani yang tepat, kelemahan
ini niscaya dapat diperbaiki. Ketiga, besarnya
potensi untuk memberikan nilai tambah terhadap
produk pertanian lewat proses pengolahan primer
pasca panen dan pengembangan agroindustri. Potensi
ini tidak lepas dari populasi penduduk Indonesia
(220 juta), yang merupakan pasar domestik sangat
besar bagi produk pertanian primer dan olahan.
Keempat, terkait dengan sifat sumber daya pertanian
yang renewable resources. Suatu modal besar
bagi upaya pembangunan agroindustri yang berkelanjutan.
Pembangunan pertanian yang dilakukan secara
benar niscaya akan mengurangi - dan akhirnya
menghilangkan - ketergantungan besar terhadap
impor bahan pangan. Sebagai negara agraris,
Indonesia sebenarnya tidak cuma memiliki potensi
yang sangat besar untuk mandiri dalam pemenuhan
kebutuhan pangan, juga untuk berperan sebagai
pemasok kebutuhan pangan d'unia. Kuncinya, lagi-lagi,
terletak pada kebijakan pemerintah.
Menerbitkan regulasi dan deregulasi tentu
tidak cukup. Pemerintah juga mesti melakukan
langkah konkret, utamanya untuk menjawab kebutuhan
riil saat ini tentang perlunya mengembangkan
sektorsektor usaha yang mampu menyerap tenaga
kerja dalam jumlah besar. Tentang ini, saya
sendiri sejak lama tertarik untuk merealisasikan
program pencetakan 1 juta hektar sawah. Selain
bisa langsung menyerap tenaga kerja dalam jumlah
signifikan, program ini juga sangat potensial
memberikan efek pengganda (multiplier effect)
yang mengarah ke kemandirian pangan.
Bisa dibayangkan, berapa banyak rakyat yang
bisa langsung terbantu jika pola seperti ini
dikembangkan pada sejumlah tanaman pangan lain,
juga kelapa sawit atau cokelat. Berapa banyak
pula rakyat yang terbantu jika program-program
konkret seperti ini dilakukan pada sektor-sektor
lain, termasuk pembangunan perumahan rakyat.
Apa pun, bangsa Indonesia kini tinggal punya
pilihan tunggal. Yakni, menjadikan 2004 sebagai
momentum untuk membangun kesadaran kolektif
tentang pentingnya bangkit dari keterpurukan
panjang dan meretas jalan menjadi bangsa yang
mandiri dan bermartabat. Kecuali, Anda dan kita
semua merasa cukup dengan hanya menjadi "kacung"
di negeri sendiri yang amat kaya ini.