| |
Nama: Prabowo
Subianto
Lahir: Jakarta, 17 Oktober 1951
Agama: Islam
Pendidikan:
SMA: American School In London, U.K. (1969)
Akabri Darat Magelang (1970-1974)
Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD Kursus/Pelatihan:
Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974)
Kursus Para Komando (1975)
Jump Master (1977)
Kursus Perwira Penyelidik (1977)
Free Fall (1981)
Counter Terorist Course Gsg-9 Germany (1981)
Special Forces Officer Course, Ft. Benning
U.S.A. (1981) Jabatan:
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (1996-1998)
Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan
Darat (1998)
Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (1998)
Jabatan Sekarang:
Ketua Umum HKTI periode 2004-2009
Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai
di Kazakhstan
Presiden Dan Ceo PT Tidar Kerinci Agung (Perusahaan
Produksi Minyak Kelapa Sawit), Jakarta, Indonesia
Presiden Dan Ceo PT Nusantara Energy (Migas,
Pertambangan, Pertanian, Kehutanan Dan Pulp)
Jakarta, Indonesia
Presiden Dan Ceo PT Jaladri Nusantara (Perusahaan
Perikanan) Jakarta, Indonesia |
Pensiun dari dinas militer,
Prabowo beralih menjadi pengusaha. Ia mengabdi
pada dua dunia. Nama mantan Pangkostrad dan Danjen
Kopassus ini kembali mencuat, menyusul keikutsertaannya
dalam konvensi calon presiden Partai Golkar. Kemudian
dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kongres V
Petani 5 Desember 2004 di Jakarta, dia terpilih
menjadi Ketua Umum HKTI periode 2004-2009 menggantikan
Siswono Yudo Husodo dengan memperoleh 309 suara,
mengalahkan Sekjen HKTI Agusdin Pulungan, yang
hanya meraih 15 suara dan satu abstein dari total
325 suara.
Putera begawan ekonomi Sumitro
Djojohadikusumo ini telah kembali ke ladang pengabdian
negerinya. Tak berlebihan untuk mengatakannya
demikian. Maklum, kendati sudah hampir tiga tahun
pulang ke tanah air – setelah sempat menetap
di Amman, Yordania – Prabowo praktis tak
pernah muncul di depan publik. Apalagi, ikut nimbrung
dalam hiruk-pikuk perpolitikan yang sarat dengan
adu-kepentingan segelintir elite.
Mantan menantu Soeharto ini lebih
memilih diam, sembari menekuni kesibukan baru
sebagai pengusaha. ”Kalau bukan karena dorongan
teman-teman dan panggilan nurani untuk ikut memulihkan
negara dari kondisi keterpurukan, ingin rasanya
saya tetap mengabdi di jalur bisnis. Saya ingin
jadi petani,” ucap Prabowo.
Diakui, keikutsertaannya dalam
konvensi Partai Golkar bukan dilatarbelakangi
oleh hasrat, apalagi ambisi untuk berkuasa. Seperti
sering diucapkan, bahkan sejak masih aktif dalam
dinas militer, dirinya telah bersumpah hendak
mengisi hidupnya untuk mengabdi kepada bangsa
dan rakyat Indonesia.
Prabowo sangat mafhum, menjadi capres –
apalagi kemudian terpilih sebagai presiden –
bukan pilihan enak. Karena, siapa pun nanti yang
dipilih rakyat untuk memimpin republik niscaya
bakal menghadapi tugas yang maha berat. ”Karenanya,
Pemilu 2004 merupakan momentum yang sangat strategis
untuk memilih pemimpin bangsa yang tidak saja
bertaqwa, tapi juga bermoral, punya leadership
kuat dan visi yang jelas untuk memperbaiki bangsa,”
tambahnya.
Bagi sebagian orang, rasanya
aneh menyaksikan sosok Prabowo Subianto tanpa
seragam militer. Tampil rapi dengan setelan PDH
warna kelabu, lelaki 52 tahun itu memang terlihat
lebih rileks jika dibandingkan semasa masih dinas
aktif dulu. Senyumnya mengembang dan tak sungkan
berbaur dengan masyarakat – utamanya kader-kader
Partai Golkar – yang antusias menyambut
kedatangannya di beberapa kota.
Dalam setiap orasi selama mengikuti
tahapan konvensi calon presiden Partai Golkar,
Prabowo bahkan amat fasih bertutur tentang kesulitan
yang mengimpit para petani dan nelayan, serta
beraneka problem riil di masyarakat yang kian
mengenaskan. ”Situasi ini harus cepat diakhiri.
Kita harus bangkit dari kondisi keterpurukan dan
membangun kembali Indonesia yang sejahtera,”
ujarnya di atas podium.
|