'Saya Merasa Terpanggil'
"Happir saja asset ini diambil alih oleh Singapura. Saya merasa tertantang untuk menyelamatkan aset bangsa ini"
Majalah MATRA edisi April 2004
Bak
panglima militer menginspeksi pasukannya. Prabowo
subianto disambut saat tiba di lokasi pabrik
kertas miliknya pt kiani kertas di makajang,
kalimantan timur. PT Kiani memang 'mainan' baru
bisnis pria yang akrab disapa 08 ini. Semula,
pabrik seluas sekitar 3.400 hektare itu milik
pengusaha nasional bob hasan. Perusahaan tersebut
diambil alih prabowo, setelah sempat "dirawat"
bppn (badan penyehatan perbankan nasional).
Pabrik itu, selain dilengkapi dengan pelabuhan
laut, juga memiliki bandara sendiri bandara
kiani lungsuran naga. Pabrik ini juga dilengkapi
dengan fasilitas umum bagi para karyawannya,
mulai dari rumah tinggal, sekolah, rumah sakit,
hingga tempat peribadatan. `haaipir saja aset
negara ini diambil alih oleh singapura. Saya
merasa tertantang untuk menyelamatkan aset bangsa
ini," kisah prabowo, tatkala melakukan
pemeriksaan ke setiap sudut pabrik. 'Kalian
ini adalah pejuang ekonomi. Harus punya jiwa
nasionalisme yang kuat," ujar pria yang
kini tampak sedikit gemuk itu. Orasinya disambut
riuh tepuk tangan para karyawan PT. Kiani Kertas.
Begitulah, semangat nasionalismenya tampak membuncah,
dan tak pernah hilang. Terbukti, ia berulang
kali mengharapkan adanya semangat nasionalisme
dan patriotisme pada karyawannya. Senyumnya
terus mengembang. Sesekali, pria ini mengeluarkan
joke-joke segar, dan membuat suasana menjadi
cair. Kala di militer, banyak orang kerap menyebut
Prabowo "the rising star". Pada usia
47 tahun i1998i, ia sudah diangkat menjadi panglima
komando cadangan strategi angkatan darat (pangkostrad).
Diterima pelbagai kalangan. Soal isu penculikan
aktivis, prabowo menyatakan bahwa itu bukan
penculikan, tapi penangkapan karena mereka ada
dalam daftar pencarian orang (dpo) setelah meledaknya
bom di tanah tinggi pada awal 1998. Meski begitu,
ia tetap dengan kesatria mengambil alih tanggung
jawab dari anak buahnya.
Banyak cerita dramatis yang berkembang di seputar
berhentinya salah satu (mantan) menantu Pak
Harto ini dari dinas kemiliteran. Namun, tampaknya
pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951, ini
tak mau menoleh ke belakang. Setelah sempat
lama di luar negeri, membantu bisnis adiknya,
Hashim Djojohadikusumo, dia pulang ke Indonesia.
Di sini, pria yang gaya bicaranya selalu berapi-api
ini memimpin Nusantara Energy sebuah grup bisnis
yang bergerak dalam pengelolaan dan perdagangan
beberapa komoditas sumber daya alam. Bisnisnya
mulai dari minyak kelapa sawit, minyak bumi,
pertambangan, pulp, sampai perikanan.
Di Karazanbasmunai, ia menangani sebuah perusahaan
minyak yang berkedudukan di Kazakstan. Pria
yang masih tampak awet muda ini duduk sebagai
komisaris. Di perusahaan lain, PT Tidar Kerinci
Agung, sebuah produsen minyak kelapa sawit ia
menjabat presiden direktur. Sementara di Nusantara
Energy, pria ini tercatat sebagai CEO. Posisi
yang sama ia pegang di PT Jaladri Nusantara,
sebuah perusahaan perikanan.
Sibuk berbisnis, rupanya, putra begawan ekonomi
Alm. Sumitro Djojohadikusumo ini tak main-main
untuk menjadi orang nomor satu di bumi pertiwi,
Presiden RI. Ketika Partai Golkar, melalui Konvensi
Golkar, melamarnya menjadi salah satu kandidat
calon presiden, Prabowo menyambut hangat lamaran
partai berlambang pohon beringin itu. Sikapnya
dituangkan dengan lugas di hadapan Pemimpin
Redaksi Nasional di Hotel Hilton, Jakarta, iermasukkepada_S_S_BLdi
Rahardjo dari MATRA.
Wawancara kedua dilakukan Abdul Kholis, S.
Dian Adryanto, Irwan Duse, dan fotografer Bachren
Luksardinul di Gedung Bidakara Lantai 9, Jakarta.
Kala itu, Prabowo menerima MATRA, sehari setelah
keputusan Kasasi Mahkamah Agung membebaskan
Akbar Tanjung dari kasus tuduhan korupsi. "Saya
kenal Pak Akbar Tanjung sudah lama. Sebagai
sahabat, bagaimanapun kondisinya saya harus
datang ke rumahnya. Kalau kemarin keputusannya
beliau dinyatakan bersalah, saya pun tetap datang,"
ujarnya dalam wawancara berikutnya, usai acara
Presidential Candidate Watchers, di Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan. "Sebagai kawan,
dalam keadaan senang atau susah harus tetap
berkawan. Kalau ada perbedaan sikap politik
atau pandangan soal kemasyarakatan, itu lain
ceritanya," katanya tegas. Lebih jauh,
berikut petikannya:
Persiapan Anda sebagai calon presiden (capres),
sejauh mana?
Saya kira, Anda sudah melihat proses politik
yang berjalan, terutama dalam lingkungan Golkar
yang menyelenggarakan konvensi, dan saya sudah
mengikutinya sejak Agustus. Anda bisa menilai
bahwa saya sudah mengikuti dan saya sudah siap
menghadapinya.
Di dalam konvensi, persaingannya seperti apa,
sih? Persaingannya sehat dan positif. Di antara
kandidat, kan, banyak kawan dan sahabat saya.
Semua saya hormati. Jadi, persaingan masih dalam
tahapan yang baik dan positif.
Kenapa tak buat partai sendiri ?
Membuat partai itu, kan, tidak gampang. Membutuhkan
sosialisasi waktu yang lama, uang yang tidak
sedikit, kader yang banyak. Saya ini tentara.
Saya lihat Golkar juga dulu riwayat hidupnya
didirikan oleh TNI. Partai ini sangat cocok
dengan sumpah saya sebagai prajurit. Hanya Golkar
yang membuka pintu bagi orang luar. Jadi, lebih
efisien bagi saya untuk berjuang melalui kendaraan
yang sudah ada.
Apa yang mendorong Anda ingin jadi presiden?
Masalah keterpanggilan sebagai warga negara
yang bertanggung jawab untuk menyediakan diri
demi negaranya yang sedang kesulitan. Masalahnya,
bangsa kita dalam keadaan sulit dan setiap warga
negara berhak berjuang untuk membangun kembali
negaranya. Jadi, saya terpanggil karena faktor
itu.
Kita maju dengan sebuah solusi yang memuat sebuah
platform untuk ditawarkan kepada partai Golkar,
lalu kepada rakyat. Kondisi bangsa kita memang
cukup rawan. Bangsa kita seolah sulit keluar
dari keterpurukan. Ini masalah utama. Di mana-mana
terjadi keadaan yang saya sebut sebagai the
Indonesian paradox: negara yang sangat kaya
dengan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi
yang besar, tapi rakyatnya miskin.
Kenapa? Krisis ekonomi yang bcsar ini seolah
menghancurkan jerih payah pembangunan bangsa
selama 32 tahun. Dan, sekarang kita tahu apa
y ang sedang terjadi, namun tidak mengambil
langkah yang realistis untuk keluar dari kejatuhan
itu. Yang terjadi malah pertikaian, kerusuhan,
caci maki, perang antarsuku dan agama.
Menurut Anda, elite politik kita tidak
becus mengurus negeri ini?
Elite kita tidak mencari solusi, tapi malah
terjerumus dalam perpecahan. Inilah yang rawan.
Krisis ekonomi pada 1997 1998, kan, tidak terjadi
hanya pada kita, tapi juga Thailand, Hong Kong,
Malaysia, dan Filipina. Kita lihat mereka semua
sudah keluar dari krisis, sedangkan kita masih
terus seperti ini. Memang ada beberapa pakar
mengatakan, indikator ekonomi membaik, begitu
juga dengan bursa. Tapi, siapa yang main di
bursa itu? Itu, kan, dari luar. Ratusan juta
rakyat kita, boro-boro main di bursa, cari makan
saja susah. Jangan menipu rakyat dengan kata-kata
seperti itu.
Dalam kondisi sekarang, mana dulu yang
perlu dibenahi, ekonominya atau orang-orang
yang duduk di pemerintahan?
Sebetulnya beberapa ahli sudah menjawabnya.
Banyak orang sudah tahu bahwa Indonesia mengalami
krisis moral dan kepemimpinan. Bahkan, elite
kita sebetulnya mengecewakan. Saya enggak ngerti,
kita tidak tahu, atau tidak enak untuk mengakui,
atau pura-pura tidak tahu bahwa masalahnya adalah
masalah kegagalan kepemimpinan.
Dalam pencalonan presiden, Anda merasa
didukung rakyat?
Saya yakin, apa yang saya katakan tadi
sudah dirasakan oleh sebagian besar rakyat kita.
Mereka sesungguhnya lebih merasakan dibandingkan
dengan saya bahwa ekonomi masih sulit. Kita
sekarang tidak menguasai sektor strategis dari
ekonomi modern. Komunikasi tidak dikuasaa, pabrik-pabrik
semen sebagian besar sudah dikuasai asing. Bank
juga begitu. Bahkan, sekarang modal asing boleh
masuk ke media massa termasuk telekomunikasi.
Kalau begini terus, kita akan jadi bangsa kacung.
Anda tak setuju dengan langkah pemerintah
dalam hal privatisasi?
Privatisasi harus mengutamakan kepentingan
nasional. Kalau terpaksa privatisasi, tidak
perlu divestasi mayoritas, beri saja 20% atau
30% nya. Jadi, kalau kontrol manajemen sudah
diserahkan kepada negara asing, bagaimana kita?
Kabarnya Anda juga tak setuju dengan pembelian
pesawat tempur Sukhoi?
Saya ini, kan, bekas panglima. Bidang saya
pertahanan keamanan. Saya tahu masalah pertahanan
dan keamanan (hankam). Dan, inti dari hankam
adalah kesejahteraan rakyat. Jadi, menurut saya,
prioritasnya yang keliru. Bukan cocok tanam
yang digenjot, malah mau beli senjata canggih.
Jika Anda terpilih sebagai presiden, langkali
prioritas apa yang akan dilakukan?
Membangun dengan segera suatu pemerintahan
nasional yang bersih, kuat, dan efektif. Itu
langkah pertama. Sulit, tapi harus. Tidakkah
problem Indonesia ini disebabkan oleh para elit
elit yang tidah bertanggung jawab, yang tidak
peduli pada nasib rakyat:
Pertama, banyak dana pemerintah yang semestinya
dipakai untuk kesejahteraan rakyat dalam bidang
kesehatan danpendidikan justru masuk ke kocek
segelintir orang yang sebenarnya sudah kaya.
Hal ini menjadi sangat ironis di tengah kemiskinan
sebagian besar rakyat Indonesia.
Kedua, korupsi yang meng hambat kinerja ekonomi.
Akibatnya, rakyat makin jauh terpuruk Karena
menyusutnya lapangan kerja dan merosotnya upah
buruh.Mengutip data Badan Program Pembangunan
PBB (UNDP) dan Organisasi Buruh se-Dunia (ILO),
sekitar 48% (atau 100 juta lebih) penduduk Indonesia
masih berada di bawah garis kemiskinan.
Halaman 1 | 2
| 3