Nusantara Energy
Kiani Kertas
Tidar Kerinci Agung
Tusam Hutani Lestari
Nusantara Kaltim Coal
Jaladri Swadesi Nusantara
Gardatama Nusantara
Kampanye Pemilu 2004
Konvensi Capres Golkar
Dewan Penasehat Golkar
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)
Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
Yayasan 25 Januari
Yayasan Pendidikan Kebangsaan
Yayasan Supersemar
Klik Untuk Lihat Album
Situs Resmi TNI
HKTI Online
Situs Resmi Golkar
IPSI Online
Prabowo Dalam Tulisan

'Saya Merasa Terpanggil'
"Happir saja asset ini diambil alih oleh Singapura. Saya merasa tertantang untuk menyelamatkan aset bangsa ini"
Majalah MATRA edisi April 2004

Sejak dipensiunkan, Anda sempat menghilang begitu saja. Apa yang dilakukan ketika itu?
Bukan menghilang. Saya harus tahu peranan. Waktu keluar dari tentara dan masuk ke dunia bisnis, saya, kan, sebagai seorang pribadi di tengah masyarakat. Saya menempatkan diri, konsolidasi, belajar, dan merintis kehidupan baru. Dihujat koran-koran merupakan masa sulit. Saya pun jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi? Tapi, saya juga tahu karena belajar dari sejarah bahwa inilah bagian dari perjuangan. Orang kalau punya sikap, pendirian, kan, ada risikonya. Sepanjang sejarah acap kali orang-orang yang punya sikap itu yang dikorbankan.
Jadi, tak menghilang, tapi memikirkan karier baru karena saya punya keluarga dan anak yang harus sekolah. Saya katakan, apa pun yang terjadi, orang tahu saya, kok. Orang tahu saya tak pernah korupsi. Karena itu, begitu pensiun saya harus mandiri, bekerja secara independen. Bersyukur waktu itu adik saya bisa bantu, meski waktu itu dia juga dalam keadaan sulit.

Anda lebih memilih bisnis, menjalin hubungan dengan Pangeran Abdullah dari Yordania? Kebetulan, pada 1998 saya punya hubungan baik dengan dia, dan dia bilang kamu di sini sajalah. Di sana, saya juga mempelajari bisnis di Timur Tengah.

Kabarnya, ketika di Yordania, Anda dibuntuti intelijen suruhan Cendana?
Ha-ha-ha. Oh, ya? Apa yang Anda tahu tentang itu? Anda sering silaturahmi ke keluarga Cendana? Ah, kalian suka mancing-mancing saja. Kalau silaturahmi, ya, pasti. Saya mencoba untuk baik kepada semua orang. Kalau kemudian orang lain tidak baik sama kita, itu urusan orang lain.

Sekadar kilas balik, kisah ketika Anda masih bertugas di Timtim, sekitar tahun 1976. Kabarnya Anda sempat tertangkap oleh Fretilin?
Enggak ditangkap. Ya, kalau sekadar dikepung, itu risiko biasa. Ya, namanya kita ini pasukan khusus yang mengadakan patroli jarak jauh, saya bersama dengan tim Nenggala X, komandannya Pak Yunus Yosfiah. Beberapa kali memang saya dikepung, tapi alhamdulillah selalu lolos. Memang suatu ketika,karena kelelahan setelah patroli jarak jauh beberapa puluh jam, seluruh pasukan kelelahan dan tertidur. Hampir saja kita disergap oleh musuh. Begitu saya bangun, lo, ini, kok, musuh sudah dekat sekali. Saya yang pertama kali bangun, dan pertama kali menembak mereka. Tapi, soal dikepung musuh itu biasa, karena Fretilin jumlahnya masih banyak. Waktu itu pangkat saya masih letnan dua. Saya merasa itu pengalaman yang cukup mengesankan selama tugas di sana. Itulah romantika seorang prajurit.

Dikenal sebagai jago tembak, apakah menembak juga menjadi hobi sampai sekarang?
Sebenarnya hobi, tapi saya sudah sibuk sekali. Jadi, sulit untuk melakukan. Sebetulnya bukan jago tembak. Saya baru bagus menembak setelah saya berpangkat mayor. Saat itu saya baru merasakan seni menembak. Sekarang saya lagi senang naik kuda.

Mengapa pula Anda dipanggil 08?
Ha-ha-ha. 08 itu nama sandi di radio saya ketika bertugas di Timtim. Panggilan itu terus melekat, meskipun saya tidak membawa radio. Ya, sampai sekarang ini, meski sudah pensiun, saya masih dipanggil 08. mungkin lebih singkat, daripada dipanggil Pak Prabowo, terlalu panjang.

Setelah pensiun dari militer, Anda merasakan perbedaan gaya hidup?
Ya, karena sampai sekarang saya masih sangat sibuk, jadi waktu untuk olahraga sangat berkurang. Meskipun, harusnya tidak ada alasan untuk tidak berolahraga, tapi kadang susah juga. Malam-malam masih harus memimpin pertemuan, pagi-pagi sekali harus rapat lagi.

Perbedaan itu seberapa jauh pengaruhnya bagi kehidupan Anda?
Jelas, tidak berolahraga itu tidak bagus. Saya harus memulai lagi, meski berat. Saya harus paksakan. Ketika masih menjadi Danjen (Komandan Jenderal) Kopassus, dalam seminggu saya lari lima kali, setiap hari dua sampai tiga kilometer. Makanya, sekarang saya jadi gemuk begini, ha-ha-ha.

Sejak pensiun, Anda sering mengenakan pakaian warna khaki. Itu warna kesukaan Anda?
Ini, kan, warna pekerja. Di semua perusahaan saya, karyawannya pakai pakaian kerja warna seperti ini. Pas untuk orang lapangan, tidak kelihatan cepat kotor.

Anda punya perancang khusus soal pakaian atau kebutuhan pribadi lainnya?
Enggak punya. Untuk sepatu misalnya, telapak kaki saya melebar, jadi susah untuk pakai sepatu dengan merek-merek yang keren. Yang penting enak dipakai dan kuat. Maunya, sih, pakai yang bermerek terkenal, seperti Bally, Gucci, atau yang lainnya. Tapi, kan, merek-merek itu sempit untuk saya. Kaki saya itu kaki prajurit infanteri, jadi lebar, ha-ha-ha.

Anda tidak suka golf?
Saya enggak bisa golf. Dulu enggak suka, sekarang enggak bisa, ha-ha.

Makanan favorit Anda?
Saya suka makan apa saja, tapi setiap hari harus makan tahu nn tempe. Dulu kalau teman-teman saya ke Yordania bertemu saya, mereka harus bawa tahu dan tempe, ha-ha-ha. Soalnya, di sana tidak ada tempe.

Benarkah berat badan Anda kian bertambah?
Iya. Saya sempat kaget ketika melihat pakaian militer saya kala masih aktif di militer. Ternyata, sekarang ukuran tiga size lebih besar daripada pakaian itu. Setiap hari saya timbang badan. Berat badan saya sekarang sekitar 80 kilogram. Waktu aktif, berat sekitar 74 kilogram. Sempat sampai berat 83 kilogram. Tapi, ya, sudahlah. Toh, sekarang saya sudah jadi pengusaha.

Anda begitu menikmati hobi herkuda, ada filosofinya?

Bagi saya, berkuda itu merupakan salah satu olahraga yang unik. Butuh kerja sama yang baik antara manusia dan binatang. Saya harus mendalami kehidupan binatang ini.
Soal anak, Anda punya konsep dalam mendidik?
Saya berikan kebebasan pada anak mengambil keputusan sendiri, tetapi harus belajar bertanggung jawab. Dulu, ayah mendidik saya demikian. Ayah saya selalu bilang, "kalau itu sudah menjadi kehendakmu, silakan. Tapi, kamu harus bertanggung jawab. Konsep ini yang coba saya terapkan." Apalagi, sekarang anak saya sekolah di Amerika, jadi liberalisme sudah terbentuk.

Minat anak Anda sekarang ke mana?
Umur anak saya baru 19 tahun, kadang masih suka berubahubah. Dulu suka dunia desain, sekarang ingin belajar hukum.

Anda sering berlibur dengan anak?
Waduh, waktu saya sangat sempit sekali. Yang penting, komunikasi saya jaga terus. Kalau telepon, sampai berjam jam, sampaisampai rekening telepon membengkak, ha-ha-ha

Dalam hidup, Anda percaya dengan life begins at forty?

Saya percaya life begins at fifty, ha-ha-ha.

Anda termasuk pria yang romantis?
Waduh, saya enggak mau bicara soal itu, ah. Saya ini orangnya serius, ha-ha-ha.

Sampai sekarang Anda masih sendiri, sudah ada rencana untuk menikah lagi?
Enggak usah ditanyalah, itu nanfi saja_-Ha-ha-ha.

Halaman 1 | 2 | 3

 
 
©2005 Prabowo Subianto - All Rights Reserved